Saleum Teuka Syedara

Belajar Dakwah Bersama Dai Muda

Senin, 04 Juli 2011

Metode Menghafal al-Quran

Metode Menghafal al-Quran
Dalam menghafal al-Quran seseorang memiliki metode dan cara yang berbeda. Namun, apapun metode yang dipakai tidak akan terlepas dari pembacaan yang berulang-ulang sampai dapat mengucapkannya tanpa melihat (menutup) mushaf sedikitpun.
Proses menghafal al-Quran dilakukan melalui proses bimbingan seorang guru Hafizh. Proses bimbingan diantaranya sebagai berikut:
1. Bin-Nazhar
Yaitu membaca dengan cermat ayat-ayat al-Quran yang akan dihafal dengan melihat mushaf secara berulang-ulang. Proses bin-nazhar ini hendaknya dilakukan sebanyak mungkin atau empat puluh satu kali seperti yang biasa dilakukan oleh para ulama terdahulu. Hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang lafazh maupun urutan ayat-ayatnya. Agar lebih mudah dalam proses menghafalnya, maka selama proses bin-nazhar ini diharapkan calon hafizh juga mempelajari makna dari ayat-ayat tersebut.
2. Tahfizh
Yaitu menghafal sedikit demi sedikit ayat-ayat al-Quran yang telah dibaca berulang-ulang secara bin-nazhar tersebut. Misalnya: menghafal satu baris, beberapa kalimat, atau sepotong ayat pendek sampai tidak ada kesalahan. Setelah satu baris atau beberapa kalimat tersebut sudah dapat dihafal dengan baik, lalu ditambah dengan merangkaikan baris atau kalimat berikutnya sehingga sempurna.
Kemudian rangkaian ayat tersebut dan diulang kembali sampai dapat dihafal dengan sempurna. Setelah materi satu ayat sudah bisa dihafal dengan lancar kemudian pindah kepada materi yang berikutnya. Untuk merangkaikan hafalan urutan kalimat dengan ayat yang benar, setiap selesai menghafal materi ayat berikutnya harus selalu diulang-ulang dari ayat pertama dirangkaikan dengan ayat kedua dan seterusnya. Setelah satu halaman selesai dihafal, diulang kembali dari awal sampai tidak ada lagi kesalahan, baik lafazh maupun urutan ayatnya.
Setelah halaman yang ditentukan dapat dihafal dengan baik dan benar, lalu dilanjutkan dengan menghafal halaman berikutnya. Dalam hal merangkaikan hafalan perlu diperhatikan sambungan akhir halaman tersebut dengan awal halaman berikutnya, sehingga halaman tersebut akan terus sambung-menyambung.
Karena itu, setiap selesai satu halaman perlu juga diulang dengan dirangkaikan dengan halaman-halaman sebelumnya.
3. Talaqqi
Yaitu menyetorkan atau memperdengarkan hafalan yang baru dihafal kepada seorang guru atau instruktur. Guru tersebut haruslah seorang hafizh al-Quran, telah mantap agama dan ma’rifatnya serta dikenal mampu menjaga dirinya. Proses talaqqi ini dilakukan untuk mengetahui hasil hafalan seorang calon hafizh dan mendapatkan bimbingan seperlunya. Seorang guru hafizh juga hendaknya yang benar-benar mempunyai silsilah guru sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
4. Takrir
Yaitu mengulang hafalan atau men-sima’kan hafalan yang pernah dihafalkan atau sudah dihafalkan dan pernah di-sima’-kan kepada guru tahfizh. Takrir dimaksudkan agar hafalan yang pernah dihafal tetap terjaga dengan baik. Selain dengan guru, takrir juga dilakukan sendiri-sendiri dengan maksud melancarkan hafalan yang telah dihafal, sehingga tidak mudah lupa. Contohnya: pagi hari untuk menghafal materi hafalan baru, dan sore harinya untuk men-takrir-kan materi yang sudah dihafal.
5. Tasmi’
Yaitu memperdengarkan hafalan kepada orang lain baik kepada perseorangan maupun kepada jamaah. Dengan tasmi’ ini seorang penghafal al-Quran akan diketahui kekurangan pada dirinya, karena bisa saja ia lengah dalam mengucapkan huruf atau harakat. Dengan tasmi’ seseorang akan lebih berkonsentrasi dalam hafalan.
Metode yang dikenal untuk menghafal al-Quran ada tiga macam:
a. Metode seluruhnya, yaitu membaca satu halaman dari baris pertama sampai akhir secara berulang-ulang sampai hafal.
b. Metode bagian, yaitu orang menghafal ayat demi ayat atau kalimat demi kalimat yang dirangkaikan sampai satu halaman.
c. Metode campuran, yaitu kombinasi antara metode seluruhnya dengan metode bagian. Mula-mula dengan membaca satu halaman berulang-ulang, kemudian pada bagian tertentu dihafal tersendiri. Kemudian diulang kembali secara keseluruhan. Dan metode inilah yang sering dipakai oleh kebanyakan hafizh (penghafal) al-Quran.
Hanya ini yang dapat saya (adnan yahya) sampaikan, semoga bermanfaat dan berguna bagi penulis pribadi dan pembaca yang budiman. Amin… wallahu’alam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya sangat mengharapkan komentar, kritik , saran dan tanggapan yang membangun untuk kemajuan kita bersama.