Saleum Teuka Syedara

Belajar Dakwah Bersama Dai Muda

Sabtu, 02 Juli 2011

Sehat atau Sakit???

Sehat atau Sakit???
الحمد لله رب العالمين , السلام عليك يا محمد وعلى أله وصحبه اجمعين وبعد :
Hidup merupakan anugerah Allah SWT yang diberikan kepada makhlukNYA. Sakit pula karunia Allah SWT yang diberikan kepada makhlukNYA yang hidup. Orang sehat harus bersyukur dan orang sakitpun harus bersyukur. Karena kedua-duanya adalah karunia Allah SWT. 
Dibalik kesehatan dan sakit kita tentunya ada hikmah yang boleh jadi manusia tidak tahu apa sebenarnya yang diinginkan Allah SWT. Orang yang selalu sehat pasti tidak bisa menikmati dan mensyukuri nikmat sehat. Sehingga Allah SWT memberikan sakit, dengan sakit itu manusia akan tahu diri (introspeksi/muhasabah). Coba kita renungkan, apabila Allah SWT hanya menciptakan sehat selamanya atau sebaliknya, tentu dunia tidak akan terasa indah.
Begitu pula seandainya yang ada didunia ini warna hitam semua, kaya semua, cantik semua, pejabat semua, tentu dunia akan tidak terasa indah. Manusia hanya bisa mensyukuri apa yang telah ada dan berusaha (ikhtiar) dengan segala upaya dan tenaga. Seorang manusia hanya bisa ber-Huznuzan ( berprasangka baik) terhadap apa yang dialaminya.
Namun, dibalik itu semua. Penulis ingin menyampaikan apa sebenarnya ciri-ciri orang yang sehat jiwa. Seseorang dikatakan jiwanya sehat minimal mengandung atau memiliki 3 (tiga) unsur:
a.      Sadar
Sadar adalah sesuatu yang dimiliki oleh orang yang sehat jiwa. Orang gila adalah orang yang tidak sadar (tidak memiliki kesadaran). Apa yang dia lakukan benar atau salah mereka tidak memikirkannya. Seorang muslim yang sehat jiwa, mereka tahu apa kewajiban, hak dan hasil yang didapat dari apa yang dia lakukan (amal). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang itu jiwanya sehat. Namun sebaliknya, muslim yang tidak sadar akan kewajibannya adalah muslim yang sakit jiwa.
Para muazzin mengumandangkan azan di mesjid, lalu seorang muslim mendengarkannya. Muslim tersebut meninggalkan rapat, pekerjaan, dan tugasnya untuk memenuhi seruan azan itu. Maka muslim tersebut adalah muslim yang sadar (sehat jiwa). Namun sebaliknya, seandainya mereka mendengarkan azan namun sibuk dengan pekerjaannya mereka termasuk orang yang tidak sadar alias sakit jiwa.
Seorang mahasiswa sadar akan ke-mahasiswa-annya. Mereka benar-benar menggunakan “titel” mahasiswa sebagai ajang mengembangkan potensi. Bukan hanya tahunya demo, gertak, dan membuat orang lain sakit hati.
Jadi, sadar adalah kepunyaan orang-orang yang jiwanya sehat, bukan malah sebaliknya.
b.       ( مناسب )Sesuai
Tanda seseorang sehat jiwa adalah sesuai. Apa yang dia lakukan sesuai dengan semestinya. Sesuai pada tempat, situasi dan kondisinya. Contoh: pakaian ke pasar jangan digunakan untuk pakaian shalat, Baju yang digunakan dikamar tidur jangan digunakan diluar kamar tidur, Baju yang digunakan dikamar mandi jangan digunakan didepan umum, pakaian “dalam” jangan digunakan menjadi pakaian luar, semuanya itu dinamakan dengan sesuai alias orang tersebut bisa dikatakan jiwanya sehat.
Namun sebaliknya, jika pakaian ke pasar digunakan untuk shalat, baju di kamar tidur digunakan diluar kamar, baju dikamar mandi digunakan didepan umum dan pakaian “dalam” digunakan di luara maka, ini namanya tidak sesuai alias sakit jiwa.
Renungkan, berapa banyak mahasiswa yang menggunakan pakaian “dalam” menjadi pakaian luar??, mereka mondar-mandir didalam mesjid (Rumah Allah) apakah pantas??. Mereka menggunakan pakaian mandi didepan umum?? Apakah pantas terjadi dikampus yang UNGGUL dan ISLAMI???.
Jadi, orang yang tidak berperilaku sesuai berarti sakit jiwa.
c.        خير الناس انفعهم للناس ) )Aktualisasi dirinya bagus
Kemudian yang terakhir adalah aktualisasi dirinya bagus, artinya kemanfaatan dirinya bagi orang lain oke. Contoh: jika sebuah gerakan atau organisasi menyelenggarakan rapat atau diskusi. jika “dia” tidak hadir dalam rapat rasanya rapat kurang lancar, ide minimal, gagasan kurang dan keputusan kurang konkrit.
Ini menandakan bahwa aktualisasi (kemanfaatan) dirinya bagus di hadapan orang lain. Namun jika sebaliknya, jika “dia” tidak hadir dalam rapat atau diskusi rasa aman, sejahtera, sentosa, dan diskusi berjalan lancar dan keputusan yang diputuskan maksimal (efektif). Maka orang seperti ini aktualisasi dirinya sangat jelek dan tidak berkualiatas.
Inilah tiga hal minimal yang harus dimiliki oleh seseorang jika mau dirinya dikatakan sehat jiwa. Namun, apabila ketiga hal ini tidak melekat pada dirinya maka secara tidak langsung orang tersebut bisa dikatakan sakit jiwa. Oleh karenanya, mari sama-sama kita renungkan ada di posisi mana kita, sehat jiwakah? Atau malah sebaliknya sakit jiwa?.
Mari kita berbenah diri untuk menjadi yang terbaik dalam hidup ini. Ingat saudaraku:” Hidup didunia hanya bisa dinikmati sekali”. Mari kita gunakan yang sekali ini menjadi yang terbaik. Apa yang kita tanam saat ini itulah yang akan kita petik hari esok (akhirat).  ( siapa yang menanam dia yang akan menuai). Wallahu’alam!.
Hanya ini yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat bagi penulis pribadi dan kepada pembaca yang mulia.


والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Di tulis oleh : Adnan/KPI/UMY.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya sangat mengharapkan komentar, kritik , saran dan tanggapan yang membangun untuk kemajuan kita bersama.