“Trilogi” dalam Perspektif Al-Qur’an
Dalam setiap organisasi tentunya memiliki perbedaan ragam (culture). Sehingga satu organisasi atau satu gerakan dengan gerakan lainnya berbeda, baik dalam segi sejarah (Historis), Simbol, Tujuan (visi), dan kultur yang di kembangkan dalam organisasi tersebut. Dengan demikian lahirlah istilah-istilah yang menyebabkan “perbedaan” walaupun pada inti tujuannya sama yaitu “Dakwah”. Dalam gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang lebih di kenal dengan sebutan “IMM” memiliki trilogi yang sangat relevan dengan keadaan umat saat ini.
Oleh karenanya, penulis ingin meminjam “Trilogi” tersebut untuk menjadi bahan penulisan pada kesempatan yang berbahagia ini.
a) Religiusitas
Agama adalah penunjuk arah menuju kehidupan yang hakiki baik di dunia maupun di akhirat nanti. Ini relevan dengan doa yang sering kita baca (do’a sapu jagat):”Rabbana atina fitdunya hasanah wafil akhirati hasanah”. Agama merupakan modal penting bagi seluruh manusia di jagat raya. Bahkan dalam semua organisasipun harus selalu di imbangi dengan nilai-nilai keagamaan. Untuk apa jadi “prof” yang ilmu (intelektual)nya tinggi namun, semua itu tidak di landasi dengan agama (Islam) yang kuat. Berapa banyak para intelek Islam yang “murtad” karena ilmu agama mereka kurang (minimal). Sehingga musuh-musuh Islam (Kafir) mampu menggoyang keimanan seorang “prof”.
Oleh karena itu, ilmu agama merupakan hal yang dasar (fundamental) dalam sebuah organisasi. Maka IMM adalah salah satu organisasi Islam yang bergerak di bidang dakwah dan hubungan kemasyarakatan, dalam mengaplikasikan nilai-nilai moral keagamaan. Sesuai dengan firman Allah SWT surat Ali-Imran:104: “ Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Walaupun ini gagasan K.H.A.Dahlan dalam mendirikan organisasi Muhammadiyah. Namun, tidaklah salah IMM mengikuti jejak Muhammadiyah. Di sebabkan IMM adalah salah satu ortom yang berada dalam naungan Muhammadiyah.
b) Intelektualitas
Dalam Islam menuntut ilmu merupakan hak dan kewajiban bagi setiap muslim. Hadist Nabi SAW :”Barangsiapa yang ingin kehidupan dunia maka dengan ilmu, Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat juga dengan ilmu, dan Barangsiapa yang menginginkan kedua-duannya juga dengan ilmu”. Dalam IMM ada satu motto “Anggun dalam moral, dan Unggul dalam intelektual”. Bahkan jikalau kita melihat lebih jauh para sahabat Rasul semuanya memiliki pengaruh. Abu bakar di samping pengusaha sekaligus imam, Umar ibn Khattab di samping jenderal juga imam, Utsman ibn Affan di samping pembisnis juga imam, Ali ibn Abi Thalib di samping intelek muslim juga imam. Semuanya serba lengkap telah di contohkan oleh para sahabat.
Hal ini merupakan sesuatu yang harus melekat pada diri seorang kader. Tanpa nilai tersebut maka penulis yakin kader akan terombang-ambing seperti buih di lautan. Sehingga tidak ada kejelasan dan tujuan yang jelas dalam ber-IMM.
Padahal Allah SWT mengatakan: “Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu). (Ar-Rahman:33).Begitulah kedudukan ilmu (intelek) dalam Islam. Islam sangat menghargai umatnya untuk menjadi yang terbaik dari yang baik dalam perihal intelektualialitas. Tentunya semua itu hal-hal yang tidak bertentangan dengan Islam (Syari’at).
c) Humanitas
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu hidup sendirian. Semuanya saling membutuhkan, yang kaya butuh si miskin dan yang miskin membutuhkan si kaya. Begitu juga sebaliknya pemimpin butuh rakyat dan rakyatpun butuh pemimpin. Itulah roda hidup di dunia yang telah di ciptakan Allah SWT. Coba kita renungkan sejenak seandainya manusia di dunia kaya semua atau miskin semua. Tentunya dunia tidak akan terasa indah.
Dengan demikian hidup saling membantu, mengharagai dan memberi “ Yadul ulya Khairum min yadis sufla, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”. Maka sebelum kita memperbaiki hubungan kita dengan manusia (Hablum minnanas) perbaikilah terlebih dahulu hubungan dengan Allah (Hablum minallah). Kalau seandainya hubungan vertikal (Allah) sudah baik, maka penulis yakin bahwa hubungan horizontal (Humanitas) juga insyaallah akan ikut baik.
Tahun ini IMM merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-47, tentunya kita sangat mengharapkan kepada kader IMM semoga isi Trilogi tersebut dapat diaplikasikan dalam hidupnya, baik untuk diri pribadi, masyarakat dan orang di sekitar kita. Ingat Hadist Nabi “Khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik kamu adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain”.
Di tulis Oleh : ADNAN/KPI FAI UMY/2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya sangat mengharapkan komentar, kritik , saran dan tanggapan yang membangun untuk kemajuan kita bersama.