BAB I: SEJARAH DAKWAH MESIR
(969-1517)
(969-1517)
- AWAL MULA MASUK ISLAM DI MESIR
Islam menyentuh wilayah Mesir pada 628 Masehi. Ketika itu Rasulullah mengirim surat pada Gubernur Mukaukis -yang berada di bawah kekuasaan Romawi-mengajak masuk Islam. Rasul bahkan menikahi gadis Mesir, Maria. Pada 639 Masehi, ketika Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab, 3000 pasukan Amru bin Ash memasuki Mesir dan kemudian diperkuat pasukan Zubair bin Awwam berkekuatan 4000 orang. Mukaukis didukung gereja Kopti menandatangani perjanjian damai. Sejak itu, Mesir menjadi wilayah kekuasaan pihak Islam. Di masa kekuasaan Keluarga Umayah, dan kemudian Abbasiyah, Mesir menjadi salah satu provinsi seperti semula.
Mesir baru menjadi pusat kekuasaan -dan juga peradaban Muslim-baru pada akhir Abad 10. Muiz Lidinillah membelot dari kekuasaan Abbasiyah di Baghdad, untuk membangun kekhalifahan sendiri yang berpaham Syi’ah. Ia menamai kekhalifahan itu Fathimiah -dari nama putri Rasul yang menurunkan para pemimpin Syi’ah, Fatimah. Pada masa kekuasaannya (953-975), Muiz menugasi panglima perangnya, Jawhar al-Siqili, untuk membangun ibu kota. Di dataran tepi Sungai Nil itu kota Kairo dibangun. Khalifah Muiz membangun Masjid Besar Al-Azhar (dari “Al-Zahra”, nama panggilan Fatimah) yang dirampungkan pada 17 Ramadhan 359 Hijriah, 970 Masehi. Inilah yang kemudian berkembang menjadi Universitas Al-Azhar sekarang, yang juga merupakan universitas tertua di dunia saat ini.
Muiz dan para penggantinya, Aziz Billah (975-996) dan Hakim Biamrillah (996-1021) sangat tertarik pada ilmu pengetahuan. Peradaban berkembang pesat. Kecemerlangan kota Kairo -baik dalam fisik maupun kehidupn sosialnya-mulai menyaingi Baghdad.
Muiz dan para penggantinya, Aziz Billah (975-996) dan Hakim Biamrillah (996-1021) sangat tertarik pada ilmu pengetahuan. Peradaban berkembang pesat. Kecemerlangan kota Kairo -baik dalam fisik maupun kehidupn sosialnya-mulai menyaingi Baghdad.
Khalifah Hakim juga mendirikan pusat ilmu Bait al-Hikam yang mengoleksi ribuan buku sebagaimana di Baghdad. Di masa tersebut, Ibnu Yunus (wafat 1009) menemukan sistem pendulum pengukur waktu yang menjadi dasar arloji mekanik saat ini. Lalu Hasan ibn Haitham menemukan penjelasan fenomena “melihat”. Sebelum itu, orang-orang meyakini bahwa orang dapat melihat sesuatu karena adanya pancaran sinar dari mata menuju obyek yang dilihat. Ibnu Haytham menemukan bahwa pancaran sinar itu bukanlah dari mata ke benda tersebut, melainkan sebaliknya. Dari benda ke mata. Gangguan politik terus-menerus dari wilayah sekitarnya menjadikan wibawa Fathimiyah merosot.
Pada 564 Hijriah atau 1167 Masehi, Salahuddin Al-Ayyubi mengambil alih kekuasaan Fathimiyah. Tokoh Kurdi yang juga pahlawan Perang Salib tersebut membangun Dinasti Ayyubiyah, yang berdiri disamping Abbasiyah di Baghdad yang semakin lemah. Salahuddin tidak menghancurkan Kairo yang dibangun Fathimiyah. Ia malah melanjutkannya sama antusiasnya. Ia hanya mengubah paham keagamaan negara dari Syiah menjadi Sunni. Sekolah, masjid, rumah sakit, sarana rehabilitasi penderita sakit jiwa, dan banyak fasilitas sosial lainnya dibangun. Pada 1250 -delapan tahun sebelum Baghdad diratakan dengan tanah oleh Hulagu-kekuasaan diambil alih oleh kalangan keturunan Turki, pegawai Istana keturunan para budak (Mamluk).
Di Istana, saat itu terjadi persaingan antara militer asal Turki dan Kurdi. Sultan yang baru naik, Turansyah, dianggap terlalu dekat Kurdi. Tokoh militer Turki, Aybak bersekongkol dengan ibu tiri Turansyah, Syajarah. Turansyah dibunuh. Aybak dan Syajarah menikah. Namun Aybak juga membunuh Syajarah, dan kemudian Musa, keturunan Ayyubiyah, yang sempat diangkatnya.
Di saat Aybak menyebar teror itu, tokoh berpengaruh Mamluk bernama Baybars mengasingkan diri ke Syria. Ia baru balik ke Mesir, setelah Aybak wafat dan Ali -anak Aybak-mengundurkan diri untuk digantikan Qutuz. Qutuz dan Baibars bertempur bersama untuk menahan laju penghancuran total oleh pasukan Hulagu. Di Ain Jalut, Palestina, pada 13 September 1260 mereka berhasil mengalahkan pasukan Mongol itu. Baybars (1260-1277) yang dianggap menjadi peletak pondasi Dinasti Mamluk yang sesungguhnya. Ia mengangkat keturunan Abbasiyah -yang telah dihancurkan Hulagu di Baghdad-untuk menjadi khalifah. Ia merenovasi masjid dan universitas Al-Azhar. Kairo dijadikannya sebagai pusat peradaban dunia.
Di saat Aybak menyebar teror itu, tokoh berpengaruh Mamluk bernama Baybars mengasingkan diri ke Syria. Ia baru balik ke Mesir, setelah Aybak wafat dan Ali -anak Aybak-mengundurkan diri untuk digantikan Qutuz. Qutuz dan Baibars bertempur bersama untuk menahan laju penghancuran total oleh pasukan Hulagu. Di Ain Jalut, Palestina, pada 13 September 1260 mereka berhasil mengalahkan pasukan Mongol itu. Baybars (1260-1277) yang dianggap menjadi peletak pondasi Dinasti Mamluk yang sesungguhnya. Ia mengangkat keturunan Abbasiyah -yang telah dihancurkan Hulagu di Baghdad-untuk menjadi khalifah. Ia merenovasi masjid dan universitas Al-Azhar. Kairo dijadikannya sebagai pusat peradaban dunia.
Ibnu Batutah yang berkunjung ke Mesir sekitar 1326 tak henti mengagumi Kairo yang waktu itu berpenduduk sekitar 500-600 ribu jiwa atau 15 kali lebih banyak dibanding London di saat yang sama. Ibnu Batutah tak hanya mengagumi ‘rihlah’, tempat studi keagamaan yang ada hampir di setiap masjid. Ia terpesona pada pusat layanan kesehatan yang sangat rapi dan “gratis”. Sedangkan Ibnu Khaldun menyebut: “mengenai dinasti-dinasti di zaman kita, yang paling besar adalah orang-orang Turki yang ada di Mesir.” Pusat peradaban ini nyaris hancur di saat petualang barbar Timur Lenk melakukan invasi ke Barat. Namun Sultan Barquq berhasil menahan laju pasukan Mongol tersebut. Dengan demikian Mamluk merupakan pusat kekuasaan yang duakali mampu mengalahkan tentara Mongol.
Pada ujung abad 15, perekonomian di Mesir menurun. Para pedagang Eropa melalui Laut Tengah tak lagi harus tergantung pada Mesir untuk dapat berdagang ke Asia. Pada 1498, mereka “menemukan” Tanjung Harapan di Afrika Selatan sebagai pintu perdagangan laut ke Asia. Pada 1517, Kesultanan Usmani di Turki menyerbu Kairo dan mengakhiri sejarah 47 sultan di Dinasti Mamluk tersebut.
- BEBERAPA KERAJAAN ISLAM DI MESIR
- Kerajaan Fathimiah
- Asal mula kerajaan Fathimiah
Khalifah Fathimiah merupakan penguasa negara yang besar berpusat di lembah Nil, Kairo. Kekhalifahan ini berkuasa selama lebih kurang 203 tahun yaitu sejak tahun 909 sampai tahun 1171 M. Cikal bakal dari keKhalifahan Fathimiah ini adalah Gerakan Bani Fathimiah yang berasal dari kelompok Syi’ah Ismailiyah, mereka mengasingkan diri ke kota Salamah guna menyelamatkan diri dari pengejaran Bani Abbasiyah di bawah pimpinan Khalifah Al- Ma'mun.
Kelompok ini tidak gegabah memperebutkan kursi keKhalifahan. Tetapi mereka terlebih dahulu merebut hati masyarakat dengan gerakan da'wahnya di berbagai daerah sehingga mereka benar-benar dapat menguasai situasi dan mengerti apa yang diinginkan rakyat. Ketidak puasan rakyat kepada Khalifah Abbasiah al-Muktafi merupakan angin segar bagi pemuka Fathimiah dalam merebut hati rakyat di Mesir, akhirnya Mesir dapat di kuasai. Setelah kekuasaan Fathimiah berakhir, Mesir dikuasai Oleh Mamluk, kemudian dikuasai oleh kekhalifahan Usmani. Ketiga pemerintahan ini bernuansa Islami maka hal ini dapat dikatakan tidak mendapatkan perubahan yang menyolok.
Perubahan dan perkembangan Masyarakat Mesir terlihat nyata setelah adanya pengaruh Barat yaitu selama tiga tahun di bawah kekuasaan Napoleon (1798- 1801 M). Dengan alasan Ekspedisi dagang Napoleon Bona Parte dapat perebut hati kepala pemerintahan Khalifah Usmani di Mesir. Alasan rasional yang dilontarkan Napoleon adalah menjaga keutuhan wilayah kekuasaan Khalifah Usmanl Mesir dari rongrongan orang- orang Mamluk yang ingin merebut kekuasaan. Kepercayaan akan alasan Napoleon itu menjadi kuat karena pasukan kerajaan
Usmani di daerah ini semakin terjepit, dan pasukan Napoleon di lengkapi dengan persenjataan meriam. Dalam kekuasaan selama tiga tahun ini terlihat jelas pengaruh kebudayaan Barat di Mesir yang dari segi ilmiah dapat dikatakan sebagai suatu kemajuan.
- Pembentukan Khalifah Fathimiah
Dinasti atau Khalifah Fathimiah ini mengaku sebagai keturunan Saidina Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Rasulillah Muhammad SAW. atas dasar inilah mereka menisbatkan diri dengan nama Fathimiah. Khalifah pertama mereka adalah ‘Ubaydillah al-Mahdi di samping itu Khalifah Fathimiah ini mempunyai pemimpin lain yaitu Ali Ibn Fadhi al-Yamani, Abi Qasyim Khatam Ibn Husain Ibn Hausah al- Kufi, AI- Halawani dan Abu Sofyan. ‘Ubaydillah al-Mahdi ; yang telah memulai aktivitas di tahun 909 M. dia datang dari Syuruah ke Afrika Utara, menyamar sebagai pedagang, lalu tertangkap oleh Amir Dinasti Aghlabi ziadallah III dibantu oleh gebernurnya al- Yasa, 'ubaydillah dipenjarakan di Sijilmasah.
Kelompok yang dipimpin Abdullah Asy- syi'i ingin membebaskan 'Ubaydillah dari penjara Sijilmasah, melihat kelompok Asy-syi’i ini al- Yasa merasa takut lalu melarikan diri meninggalkan kediamannya. Dengan demikian Asy-syi'i dapat melepaskan 'Ubaydillah dan anaknya pada waktu itu pula Asy- Syi'i mengangkat ‘Ubaydillah menjadi Khalifah tepatnya di tahun 297/ 909 M.2 Khilafah Fathimiah ini berdiri di Afrika dengan ibu kotanya Raqadah di pinggiran kota Kairawan. Dengan kejadian seperti ini dapatlah dikatakan bahwa 'Ubaydillah dan pendukungnya telah dapat merebut kekuasaan Bani Ahglab secara Defacto. Daerah pusat pemerintahan Ahglab ini dijadikan tempat pemusatan dakwah Syi'ah.
'Ubaydillah memulai aksi politiknya dengan menghilangkan nama Khalifah Bani Abbasiah yang selalu disebut dalam khutbah. Di kota Kairawan 'ubaydillah disambut oleh masyarakat, mereka membai'at dan menyatakan keta'atan terhadap 'Ubaydillah, namanya disebut di dalam khutbah dengan gelar "al-Mahdi Amir al-Mukminin", maka saat itu khalifah Fathimiah telah diakui dan resmi berdiri. Pemimpin Aghlabiyyah terakhir Ziyadatullah III, diusir ke Mesir pada tahun 296 H/909 M, setelah upaya untuk mendapatkan bantuan dari ‘Abbasiah (dibawah pimpinan al-Muqtadir) sia-sia.
Jika diperhatikan secara cermat, penyerangan yang dilakukan oleh orang Fathimiah ini bukan saja merebutkan pemerintahan, tetapi secara otomatis pula mereka mengalahkan kaum Sunni (Bani Ahglab), yang sejak dahulu menjadi musuh Syi'ah. Pada tahun yang sama, Da’i termasyhur Abu' Abdullah Asy- Syi'i, berusaha menaklukkan kekuasaan Rustamiyah di Tahart dengan upaya pemyerangan terhadap keluarga Rustamiyah. Asy- syi'i didukung oleh orang-orang Beber Ketama. Bangkitnya Fathimiah yang Syi'i di Maroko ini melemahkan Dinasti Rustamiyah, dan dinasti-dinasti lokal di Maghribi. Dalam penyerangan Asy- Syi itu banyak keluarga Rustamiah terbunuh, dan diantaranya ada yang melarikan diri ke Wargla (daerah Selatan). Maka secara politis Rustamiyah tunduk kepada Fathimiyah.
Perlu diketahui bahwasanya obsesi dari 'Ubadydillah dan Abu Abdullah asy- Syi’i ini, untuk merebut Tahart sangat baik, karena pada waktu itu Tahart adalah sebuah kota yang makmur di bawah pemerintahan Rustamiyah, menjadi terminal di Utara, dari salah satu rute Kafilah Trans- Sahara, memikat penduduk Kosmepolitan diantaranya kelompok pedagang Persia dan Kristen, menjadi pusat keserjanaan.
Secara historys Tahart adalah pusat perkumpulan Kharijiyah diseluruh Afrika Utara dan di luar Afrika. Dari dua kali penaklukan ini Dinasti Fatimiah mulai tampak memperluas daerah kekuasaannya, sehingga menguasai seluruh wilayah Afrika Utara sampai ke Maroko, hingga ke perbatasan Mesir. Tahun 920 pemerintahan Fathimiah ini sudah stabil 'Ubaydillah al Mahdi- membangun sebuah kota baru di bagian Tenggara Kairawan di daerah pantai Tunisia yang diberinya nama al- Mahdiyat, kota ini dijadikan pusat pemerintahannya. Pada tahun 309 H/921 M, 'Ubaydillah mengerahkan tenteranya untuk menyerang dan menduduki kota Fez, ibu kota Dinasti Idrisiyah, penguasa Idrisiah Yahya IV Waktu itu terpaksa mengakui kedaulatan Fathimiah, Kota Fez diduduki tentera Fathimiyah. Setelah itu kekuasaan Idrisiyah mencapai daerah pelosok Maroko, dari Tamdult di Selatan sampai ke daerah Beber Ghomara di Rif (Maroko Utara).
Idrisiyah yang berada di Rif ini selain mendapat ancaman dari Fathimiah, juga mendapat ancaman dari Dinasti Umayyah di Spanyol , yang menerapkan kebijaksanaannya di Afrika utara (Maghrib). Abdirrahman sebagai pemimpin Bani Umayyah di Spanyol berada di puncak kejayaannya di Faroh pertama abad ke- 10 itu, juga merasa khawatir sekali akan ancaman, yaitu berkembangnya Dinasti Fathimiah. Sehingga pada tahun 929 M Abdurrahman III, mamakai gelar "Khalifah" dan memakai gelar kerajaan “Nasir Lidinillah”, ini bukanlah pernyataan penguasa seluruh negeri Islam, tetapi hanya suatu penegasan bahwasanya dia tidak berada di bawah kekuasaan otoritas Muslim.
Abdurrahman merasa Khawatir akan kekuasaan Dinasti Fathimiah, yang terkenal dengan penggalangan Massa melalui da'wah itu. Di sisi lain Bani Fathimiah tidak mampu membuat Maghrawa dan Zenata menjadi jajahan mereka, karena orang Maghrawa dan Zanata sangat membenci Fathimiah, mereka lebih suka berada di bawah pimpinan Bani Umayyah di Spanyol. Pada akhirnya Fathimiyah memadamkan pemberontakan kaum Khawarij yang dipimpin oleh Uba Yazid Sajadi tahun 942- 944 H. Selanjutnya Bani Fathimiah mengalihkan perhatiannya ke wilayah Afrika Utara yaitu Mesir sesuai dengan keinginan al-Mahdi.
Obsesi yang tersirat dalam pendirian Bani Fathimiah yang terpenting adalah mencoba menguasai pusat dunia Islam; yaitu Mesir. Hal yang mendorong mereka untuk menguasai Mesir tereebut adalah faktor "Ekomomi" dan "Politik". Ditinjau dari faktor ekonomi Mesir yang terletak di daerah Bulan Sabit yang alamnya sangat subur dan menjajadi daerah lintas perdagangan yang strategis; perdagangan ke Hindia melalui laut Merah, ke Italia dan Laut Tengah Barat, ke kerajaan Bizantium.
- Kemajuan Fathimiah
Mesir mendirikan Universitas Al-Azhar diajarkan berbagai cabang ilmu pengetahuan: fikih, sejarah, dan sastra. Sampai saat ini Universitas al- Azhar sangat terkanal dan lebih maju. Pada masa Khalifah al-Hakim (996 M), didirikan dar al-Hikmah yaitu tahun 1005 M, akademi ini dilengkapi dengan perpustakaan (Dar al-‘Ulum); di sini diajarkan ilmu pengetahuan agama dan sains seperti fisika, astronomi, kedokteran. Akademi ini didirikan untuk menandingi Universitas di Cordova, ia juga membangun observatorium, di Mesir di al- Muqatan dan Siria.
Di masa al- Mustansir dibangu perpustakaan negara yang memiliki 200.000 eksemplar buku; Fiqih, Sastra, fisika, kimia, dan kedokteran. Ibn Killis seorang pecinta ilmu mendirikan sebuah akademi dan menyediakan dana beribu dinar setiap bulannya untuk pengembangan ilmu. Kegiatan ilmiah diadakan di Dar al- hikmah, dalam bentuk penelaahan, diskusi, mengarang dan menulis. Beberapa ilmuan yang aktif dimasa ini: Abu Hanifah al-Maghribi, ahli agama dan ulama Syi’ah Ismaili. Di bidang sejarah, Hasa Ibn ali bin Zulhag, Abu Hasan Ali al-Syabsyata, Ibn Hammad, Muhammad ibn Yusuf al- Kindidan Ibn Salamah al Quda’i. Di bidang filsafat al- Razi, al-Kindi, Abu Ya’qub, Jakfar ibn Mansur, tokoh ilmu kedokteran, Abu abd allah, tokoh matematika abu Ali Muhammad al- Haitami, tokoh ilmu kimia , fisika, dan optik, Ibn haisyam dan yang Mansyur di bidang ilmu bintang(astronomi), Ali bin Yunus dan Jiz bin Yunus.
Ahli optik yang menulis buku tentang penyakit mata ke dalam bahasa Latin antara lain; Ibn Haitami dikenal juga dengan al- Hazan bukunya “Al- Manazir”, Amri Ali “al- Muntakhab fi ‘Ilaj al- “Aini”, Isa “Tazkirah”. Tokoh di bidang sastra, Abu al- Hamid ai- Anthaqi, Ibn Hani, Ibn Abi Jar, Abu hamid Ahmad dan Abdu al- Wahhab ibn Nashr.
Arsitektur Fathimiah dipengaruhi gaya seni Persia tercermin dalam bangunan- bangunan Mesjid al- Azhar, al- Hakim, al-Shalih lalu tergambar juga pengaruh Tulun, Afrika Utara, yaitu pada kuburan yang dibangun. Kubur Athiqah, al- ja’fari. Wazir Badr al Jamali membangun tembok kota Kairo dengan tiga buah pintu gerbang yang indah yang dinamainya dengan Bab Zuwayli, Ba, an- Nasr dan Bab al-Futuh. Dari segi seni sastra dan arsitektur Mesir belum bisa mengalahkan keindahan seni di Bahgdad.
- Ekspedisi Napoleon ke Mesir
Sejarah dunia mencatat bahwa kerajaan-kerajaan Islam pernah mencapai puncak kejayaan, sebagai kekuatan Adi daya yang dapat menguasai benua Eropah. Kejayaan ker ajaan Islam Abbasyiah di Baghdad banyak memberikan kontribusi keilmuan bagi masyarakat Barat, sehingga Batar mengalami kemajuan yang berarti di bidang keilmuan, kemajuan itu berlanjut setelah mereka mendapatkan pengaruh dan mengadopsi pemikiran Rasional Averoisme. Penemuan alat- alat teknologi dan kapal uap serta penemuan benua Amerika oleh Colonbus, menjadikan Barat lebih maju dari negara Islam.
Sebaliknya bangsa Arab yang hidup dalam kegemilangan Kerajaan Islam terlena dengan kesenagan dan kejayaannya, sehingga mengakibatkan kemundura di bidang politik, ekonomi militer, bahkan di bidang ilmu pengetahuan. Kerajaan Islam Usmani mengalami kejayaan terpukul mundur, begitu juga kerajaan Safawi dan Monghul. Kemunduran itu semakin terasa ketika kerajaan- kerajaan Islam berada di bawah peneterasi Barat.
Riwayat Hidup Napoleon
Nama Napoleon Bona Parte amat termasyur di dunia. Beliau dilahirkan pada tahun 1769 M, di Ajaccio, Carcica Italia. Putra dari Carlo dan Letiza Romalio Bonaparte. Napoleon Bona Parte sudah mendapatkan pendidikan militersejak masih belia, bi Brienne, dan di Perancis. Beliau adalah seorang para ahli di bidang alteleri. Di dalam Enciclopedia Americana tercatat: Pada tahun 1778, Napoleon Bona Paerte yang berusia 9 tahun serta kakaknya Joseph berusia 10 tahun,memasuki pendidikan di The Oration College, Autun Perancis. Tiga bulan kemudian merka mengikuti pendidikan pada The Militerry School di Brienne dengan beasiswa dariLouis XVI. Karena kehebatannya di bidang Mate- matika Napoleon dikirim mengikuti latihan militer lanjutan di Ecole Militaire Paris dan menamatkan pendidikannya disini padatahun 1784 M.
Pada tahun 1791 Napoleon sudah berpangkat letnan kolonel. 25 Kearifannya berperang selama terjadi Revolusi Prancis melanjutkannya ke jenjang pangkat Brigadir Jenderal di tahun 1793, pada usianya 24 tahun ia berhasil memimpin penyerbuan ke Italia dan beberapa negara Eropah lainnya.
Prestasinya melonjak lagi ketika ia menduduki jabatan sebagai Konsul pertama Republik Prancis tahun 1799-1804, kemudian ia menjadi Kaisar Prancis yang memerintah secara diktator di tahun 1804- 1815. Napoleon meninggal dunia di St. Helena, Atlantik pada tanggal 5 Mei 1821.
BAB II: SEJARAH DAKWAH DI AFRIKA UTARA
- PENDAHULUAN
Sejarah dan perkembangan dakwah di afrika utara
Secara historis dakwah islam masuk dan menguasai afrika utara dan menjadikan sebagai salah satu bagian provinsi dari nasti bani umayyah. Penguasaan ini terjadi pada masa khlifah abdul muluk (685-705). Penaklukan ini memakan waktu selama 35 tahun mulai dari tahun 30 H (masa pemerintahan muawiyah bin abi sufyan) samapai tahun 83 H (Masa Al-walid). Mulai dari sinilah akan menjadi batu loncatan untuk masulnya islam di dataran eropa, yaitu spanyol.
Mayoritas penduduk afrika utara adalah muslim, ini semua banyak di pengaruhi oleh kaum sufisme yang mana mereka sangat berperan besar dalam mengorganisr komunitas pedalaman dan beberapa rezim negara. Warga perkotaan menggunakan bahasa arab dalam percakapan dan kebudayaan meskipun di wilayah afrika selatan saharan dan penggunungan memakai bahasa berber sebagai bahasa umum dan menjadi basisi bagi identitas kultural.
Sejak periode awal islam samapai abad ke 19, sejarah afrika utara beerlangsung dalam dua motif yaitu: pembentukan negara dan islamisasi. Penaklukan yang dilakukan oleh bangsa arab memeberikan dorongan baru bagi pembentukan negara dan pengorganisasian masyarakat afrika utara menjadi komunitas muslim. Penaklukan tersebut juga mengantar pada pelembagaan islam bagi warga masyarakat afrika utara. Di mulai dari abd ke delapan, mazhab hukum maliki berkembang dengan pesat di selurh penjuru afrika utara dan bertahan sebgai administrasi hukum, pendidikan dan legitimasi yang paling utama sampai abd ke sembilan belas. Dalam 2 abad kemudian sufisme juga terlembagakan dan menjadi basis utama dalam penggorganisasian masyarakat pedalaman.
Sebagian dari sejarah afrika utara dari abad ke 13 sampai abad ke 19 dapat di nayatakan dalam beberapa hal sehubunngan dengan pengaruh negara dan sufi. Akhirnya penaklukan bangsa arab juga memberikan afrika utara sebuah identitas arab yang di timbulkan oleh gelombang migrasi arab. Pada abad ke 20 bahasa arab baru manjadi bahasa universal bagi masyarakat yangtelah menjadi muslim semenjak periode almuwahidin. Walaupun demikian sebagian besar wilayah selatan tunisia, aljazair, dan maroko mayoritas adalah warga berber dan masih menggunakan bahasa berber.
Secara umum gerakan jihad di afrika utara pada abad ke 19 menjurus kepada pembentukan negara negara islam termasuk di antaranya yang di pimpin usman fodio (1754-1817) di nigeria, grand sanusi di Libya (1787-1859),dan gerakan Al-Mahdi di Sudan (1845-1848 M). Ciri yang paling istimewa dari gerakan revivalis di Afrika utar adalah kepemimpinannya, yakni orde-orde sufi yang berorientasi pada politik, militan, dan reformis. Pada saat itu, di afrika utara masih banyak terdapat kepercayaan terhadap takhayul dan penghormatan kepada berhala. Kaum reformis berusaha merombak paham tersebut agar kembali kepadaa ajaran islam. Di antara tokoh reformis terkemuka di afrika utara ialah ahmad idris (1837) dari maroko. Beliau mengecam partikularisme kesukuan dan kedaerahan, serta mengecam kemerosotan moral dan sosial dalam masyarakat. Perjuangan di teruskan oleh muridnya ali bin al-sanusi (1787-1859) yang mendirikan tarekat yang bernama sanusiyah, yakni gerakan yang menjerus kepada pembangunan libya. Jaringannya sangat luas hingga mencakup afrika tengah dan afrika barat. Para pengikut orde sanusiyah adalah aktivis-aktivis dan militan yang berhasil menyatukan suku-suku atas nama islam dan persaudaraan. Komitmen mereka bukan hanya membangun negara dan masyarakat islam, akan tetapi juga penyebaran islam yang meluas pada eropa. Dengan demikian gerakan dakwah di belahan afrika utara lebih kental di warnai oleh pengaruh sufi, islamisasi pemerintahan, dan penghapusan segala bentuk yang berbau kepercayaan tau pemurnian terhadap ajaran islam.
Afrika Utara merupakan pintu gerbang penyebaran Islam ke Eropa. Dari Afrika Utara lalu ke Spanyol yang termasuk benua Eropa. Penyebaran Islam ke Afrika Utara sudah dimulai sejak khulafaurrasyidin, yaitu pada masa Umar bin Khattab. Pada tahun 640 M Panglima Amr bin Ash berhasil memasuki Mesir. Kemudian pada khalifah Uthman bin Affan penyebaran Islam meluas ke Barqah dan Tripoli. Tapi penaklukan atas kedua kota tersebut tidak berlangsung lama karena Gubernur Romawi berhasil merebut ke dua itu kembali. Karena Gubernur Romawi ini kejam dan memeras rakyat sehingga rakyat ( penduduk ) meminta bantuan kepada orang – orang Islam. Permintaan itu disanggupi oleh khlalifah Uthman bin Affan. Namun bantuan itu baru bisa terealisasi pada pemerintahan Bani Umayyah yaitu pada masa Muawiyah bin Abi Sufyan.
Muawiyah bin Abi Sufyan mempercayakan tugas itu pada panglimanya yang bernama Uqbah ibn Nafi al Fihri. Dan Uqbah ibn Nafi al Fihri berhasil menekan suku barbar dan menghalau pasukan Romawi dari daerah tersebut. Mulai sejak itu Afrika Utara dikuasia oleh Bani Umayyah lalu Bani Abbas, Rustamiyah, Idrisiyah, Aglabiyah, Ziridiyah, Hammadiyah kemudian Murabithun dan Muwahhidun.
Pada pembahasan kali ini kami akan membahas dinasti Murabithun dan Muwahhidun serta Bani Ahmar. Dinasti tersebut mempunyai wilayah yang luas dan memberikan sumbangan yang tak sedikit bagi pengetahuan dan perkembangan Islam dan kelak mampu menguasai Spanyol dimana saat itu Spanyol sedang dalam perpecahan dan dikuasai oleh raja – raja kecil ( Muluk Al Tawaif ) yang beragama Islam tapi membayar upeti kepada kerajaan Kristen yang didukung oleh Romawi. Meskipun nanti pada akhirnya Spanyol lepas dari kekuasaan pemerintahan Islam dan diporak porandakan oleh pasukan Kristen
- MULUK Al TAWAIF ( Raja – Raja Kecil )
Setelah kekhalifahan Umayyah berkhir di Spanyol, muncullah negara-negera kecil yang terus – menerus betikai dalam perang saudara, kemudian mereka dikalahkan oleh dua dinasti Barbar dari Maroko, dan sebagian lagi negara-negara kecil menyerah pada kekuasaan Kristen yang tengah bangkit di utara.
Sebelum riwayat dinasti Umayyah hilang dari Spanyol muncullah penguasa-penguasa baru diantaranya :
- Bani Hamudiyyah yang memproklamirkan sebagai penguasa yang berkuasa di Malaga dan Algeciras antara tahun 1010 – 1057. Pendirinya adalah ‘Ali ibn Hammid tahun 1016 – 1018, yang dari namanya ia menghubungkan garis keturunannya kepada menantu Rasulullah ( ‘Ali bin Abi Tholib ), tetapi ia sendiri sebenarnya keturunan Barbar. Sebelumnya ‘Ali ibn Hamid menjabat sebagai gubernur Ceuta dan Tangier sampai akhirnya ia memproklamirkan sebagai khlaifah di Kordoba. Ia juga menaklukan Malaga dan Algeciras. Dinasti ini bertahan sampai delapan keturunan sampai tahun 1057. Sebelum akhirnya direbut kembali oleh Hisyam III alias al-Mu’tamad dari dinasti Umayyah. Tapi dinasti ini tidak bertahan lama dalam situasi yang kacau, pada akhirnya dibentuklah dewan yang diketuai oleh Abu Hazm ibn Jahwar yang menghapus kekhalifahan Umayyah di Spanyol.
- Dinasti ‘Abbadiyyah, dinasti ini didirikan oleh Muhammad ibn Abbad 1023 – 1042, yang berkuasa di Seville, kemudian kekuasaannya meluas sampai ke Toledo. Pada masa raja Mu’tamid dinasti ‘Abbadiyyah meminta bantuan kepada penguasa Murabithun di Maroko untuk menghadapi pasukan Kristen ( pasukan Al Fonso VI ) di Spanyol. Tapi sayang setelah pasukan Murabithun berhasil mengalahkan pasukan AlFonso VI, tak lama kemudian malah menyerang dan menguasai dinasti ‘Abbadiyyah, maka berakhirlah dinasti ‘Abadiyyah di tangan sekutunya sendiri pada tahun 1091.
- Dinasti ‘Abbadiyyah, dinasti ini didirikan oleh Muhammad ibn Abbad 1023 – 1042, yang berkuasa di Seville, kemudian kekuasaannya meluas sampai ke Toledo.. Pada pemerintahan yang ke 3 yaitu masa Umar Al-Mutawakkil 1068 – 1094 bersedia bekerja sama dengan orang Kristen ( pasukan Al Fonso IV) dengan menyerahkan daerahnya yaitu Leon dan Castile untuk menyerang dan menaklukan kerajaan Islam lainnya yaitu Al-Murawiyyah. Sungguh menyedihkan sesama dinasti Islam tidak bersatu malah bekerja sama dengan Kristen untuk menguasai dinasti Islam lainnya.
- Jahwariyyah, dinasti ini didirikan oleh Jahwar tahun 1031 – 1041 yang berkuasa di Cordoba, dinasti ini bertahan sampai 1069 dengan penguasanya yang terakhir Abdul Malik.
- Dzun Nuniyyah, didirikan oleh Abdur Rahman ibn Dzin Nun dengan wilayah kekuasaan di Toledo tahun 1028 , dinasti ini bertahan sampai tahun 1085 dengan raja terakhir Yahya Al-Qadir 1085 setelah ditalukkan oleh pasukan AlFonso VI.
- ‘Amiriyyah di Valencia 1021 – 1096, didirikan oleh Abdul Aziz Al-Mansyur 1021- 1061. Dinasti dipimpin sampai enam generasi sampai akhirnya ditaklukan pada masa Al Qadhi’ Ja’far tahun 1096 oleh Al Murawiyyah.
Itulah sebagian di antara kerajaan – kerajaan kecil di Spanyol yang saling berperang sesama kerajaan Islam yang akhirnya mereka ditumpas oleh pasukan Kristen atau oleh pasukan lain dari luar Spanyol, seperti Murabithun yang datang ke Spanyol atas undangan raja ‘Abadiyyah, yang akhirnya menguasai sebagian besar wilayah Spanyol.
- Al MURABITHUN (1056 – 1147)
Dinasti Murabithun pada awalnya adalah sebuah kegiatan militer keagamaan yang didirikan pada abad 11. Murabithun ( ribath ) sejenis benteng pertahanan Islam yang berada di sekitar masjid. Masjid mempunyai doble fungsi sebagai tempat ibadah, penyebaran da’wah sekaligus sebagai benteng pertahanan. Anggota pertamnya berasal Lumtunah bagian dari suku Sanhaji yang suka mengembara di padang Sahara. Salah satu kebiasaan mereka menggunakan cadar yang menutupi wajah di bawah mata, kebiasaan ini dinamakan Mulatstsamun ( para pemakai cadar ) yang kadang – kadang menjadi sebutan lain bagi kaum Murabithun.
Kaum Murabithun berasal dari sebuah pulau di Senegal, sebagai mana kebiasaan orang Barbar yang hidupnya nomaden, mereka memperluaskan kekuasaannya dengan menaklukan suku satu persatu dan memaksanya untuk mengikuti atau memeluk agama Islam. Pada awalnya gerakan Murabithun adalah untuk da’wah Islam yaitu meningkatkan pengetahuan mereka tentang agama Islam yang dipimpin Abdullah bin Yasin ulama besar yang diminta oleh Yahya ibn Ibrahim seorang tokoh suku Sanhaji untuk berda’wah di suku mereka. Setelah Abdullah bin Yasin meninggal da’wahnya dilanjutkan oleh Abu Bakar, kemudian Yusuf ibn Tasfin. Dibawah pimpinan Yusuf ibn Tasfin gerakan Murbithun menjadi besar dan menjadi sebuah dinasti. Pada 1061 Yusuf ibn Tasfin menguasai Maroko, pada tahun 1062 Yusuf ibn Tasfin mendirikan Marakesh sebagai ibu kota kerajaan. Meskipun Murabithun telah menjadi sebuah dinasti yang memakai gelar amirul muslimin, tetapi dalam urusan spiritual mereka tetap mengakui otoritas Khalifah Abasiyah di Bagdad. Koin dinar yang dipakai didepan mencantumkan gelar amirul muslimin dan di belakang mencantumkan amirul mu’minin.
Dinasti Murabithun yang berkuasa di Afrika Utara ( Maroko, Aljazair sampai Senegal ) mendapat undangan dari raja al Mu’tamid dari Bani Abbad yang berada di Spanyol untuk membantunya menghadapi pasukan AlFonso VI. Sebenarnya tindakam al Mu’tamid mengundang Yusuf ibn Tasfin banyak mengundang kritikan dari pembesar lainnya. Tapi al Mu’tamid menjawab bahwa lebih bik ia menjadi seorang penunggang onta di Afrika daripada menjadi seekor babi di Castile.
Yusuf ibn Tasfin menyambut baik undangan raja al Mu’tamid. Ia bergerak melalui Spanyol Selatan berhadapan dengan pasukan Alfonso VI di Zallakh dekat Badajos dan dengan kekuatan pasukan yang berjumlah 20.000 orang, ia berhasil mengalahkan pasukan Alfonso VI, tapi raja Alfonso VI dapat melarikan diri dan selamat dari pasukan Yusuf ibn Tasfin.Dengan kemenangannya ini ia mendapat sambutan yang hangat / antusias dari rakyat muslim Spanyol dan mendapat pujian dari para penyair Seville, tapi sayang ia tak dapat memahami sair – sair tersebut, dan kembali ke Afrika.
Yusuf ibn Tasfin merasakan bahwa daerah Spanyol lebih subur , nyaman dan beradap ketimbang di Afrika yang tandus dengan gurun sahara yang tidak menarik, maka timbul di hatinya untuk kembali ke Spanyol, tapi bukan sebagai sekutu melainkan sebagai penakluk. Ia ingin merebutnya dari kekuasaan al Mu’tamid yang dulu dibantunya ketika menghadapi pasukan Alfonso VI. Pada bulan November 1090, ia memasuki kota Granada, kemudian Seville, dan kota – kota utama lainnya. Seluruh wilayah Spanyol muslim direbutnya kecuali kota Toledo dan Saragosa yang diizin untuk ditempati orang Kristen dan Banu Hud. Raja Al Mu’tamid ditangkap dan dibuang ke Maroko.Berakhirlah kekuasaan Bani Abbadiyah di tangan yang semula sekutu kemudian berubah menjadi lawan. Madzhab yang dianut oleh dinasti Murabithun adalah Maliki. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Arab dan bahasa Spanyol. Kemudian memilih kota Seville menjadi ibu kota kedua setelah Maroko di Afrika Utara. Pada tahun 1106 Yusuf ibn Tasfin meninggal dunia dalam usia 100 tahun dengan mewarisi wilayah yang luas meliputi Afrika Utara (Maroko, Aljazair sampai Senegal) , Spanyol , Leberia Selatan dan kepulauan Atlantik. Kekuasaan Dinasti Murabithun kemudian diganti oleh anaknya yaitu Ali ibn Yusuf wafat tahun 1143 dan penguasa yang terakhir yaitu Ishaq ibn Tasyfin sampai 1147. Yang akhirnya dinasti ini takluk pada dinasti Muwahhidin setelah ibu kota Marrakesh direbut oleh rivalnya dari suku Barbar yang lain.
- Al MUWAHIDUN (1147 – 1269)
Sama halnya dengan dinasti Murabithun yang memulai propagandanya dibidang keagamaan. Atau setidak – tidaknya menjadikan agama sebagai dasar gerakan tersebut. Pelopor dan sekaligus sebagai pendiri adalah Muhammad ibn Tumart yang lahir di Atlas tahun 1082 M. Dia berasal dari suku Masmudah pegunungan Atlas Maroko. Dia merupakan seorang pengelana yang haus ilmu pengetahuan. Dia belajar dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari Cordoba, Alexandaria, Mekkah dan akhirnya di Bagdad.
Setelah kembali dari perantauannya di Maroko, Ibn Tumart mulai mengadakan propaganda pembaruan terhadap tradisi Islam yang dogmatis kepada Pentauhidan yang murni dan tegas. Sebutan yang diberikan kepada pengikutnya adalah al Muwahhidin yang berarti Penegak Keesaan Tuhan. Dalam bidang teologi ia berpaham al Asy‘ariyah sedangkan bidang tasauf ia memilih paham yang dikembangkan oleh imam al Ghazali dan bidang Fiqh dia menganut madzhab Maliki . Ibn Tumart sangat keras dan terkadang kasar dalam menanamkan moral dan kepercayaan agama, ia pernah memukul saudara perempuan dari gubernur dinasti Murabithun di kota Fez karena tidak mengenakan kerudung.
Gerakan Muwahhidin semakin lama semakin banyak pengikutnya di Aghmat Ibn Tumart berhasil memikat suku Berbers Atlas.Suku itu sebelumya sudah memeluk agama Islam tapi sangat minim pengetahuan mereka terhadap Islam. Dari gerakan keagamaan kemudian berubah menjadi gerakan politik, dan para pengikutnya menyebutnya sebagai Imam Mahdi. Gerakan ini semakin sukses karena dibantu oleh Abdul Muin, orang yang ahli dalam hal strategi dan militer. Di kota Tin Malal (Tinmal ) mendirikan masjid sebagai pusat pengajaran dan propagannya, dan di kota ini pada tahun 1121 M dijadikan sebagai ibu kota pertama al Muwahhidin.
Setelah Ibn Tumart meninggal dunia tahun 1130 gerakan ini dipimpin oleh Abdul Mu’min yang kemudian menggunakan gelar khalifah bagi dirinya. Dia berhasil menaklukan , mengusai kerajaan Hammiyah di Bejaya, Ziridiyah di Ifriqiyah, Teluk Sidra , dinasti Murabihtun dan ibu kotanya Marrakesh ( Maroko ) Afrika Utara 1145 , Padang Pasir Libya 1149. Pada tahun 1170 dia melakukan ekspansi ke Spanyol dan berhasil menguasainya, maka berakhirlah dinasti Murabithun di Afrika Utara dan Spanyol. Kemudian dia menjadikan Sevillle sebagai ibu kota Dinasti Muwahhidin, tapi sang penguasa ini sering mondar mandir antara Marrakesh ( Maroko ) dan Seville di Spanyol.
Dinasti Muwahhidun mencapai kemenangan gemilang atas Spanyol dalam pertempuran di Alarcos tahun 1195 yang menandai puncak kekuatan politik. Tapi tak lama kemudian ummat Islam mendapat serangan dari pasukan Kristen dalam peperangan di Las Navas de Tolosa tahun 1212. Ini merupakan satu kekalahan dalam sejarah ummat Islam di Spanyol dan sekaligus mengawali terjadinya gerakan pemusnahan terhadap orang Islam.
Pada Dinasti Muwahhidun lahir sejumlah tokoh – tokoh filsafat dan ilmu pengetahuan Muslim yang sangat dihargai dikalangan Barat diantaranya : Ibn Tufayl wafat tahun 1185 karyanya antara lain Hayy ibn Yaqzhan , Ibn Rusyd ( Averoes ) wafat tahun 1198, karyanya antra lain :al Kulliyat fi al Thibb, Tahafut al Tahafut, Jami’, Matan Zubad , Ibn Zuhr ( Avenzoer ) wafat tahun 1162 karyanya at Taisir fi al Mudawah wal al Tadbir , Ibn Arabi wafat tahun 1240 karyanya antara lain Fushush al Hikam, Kimiyya al Sa’adah,Wahdah al wujud.
Pada masa ini juga tumbuh ilmu arsitektur yang bercorak Musllim Spanyol.Sejumlah peninggalan seni arsitektur antara lain Masjid Giralda yang sekarang menjadi Kathedral Agung di Seville, Masjid Kutubiyyah di Marakesh, Masjid Hasan di Rabat dan di Maroko dia membangun rumah sakit yang merupakan bangunan yang tiada tandingannya pada zamannya.
- Daulat Bani Ahmar (1232-1492 M)
Kita pasti mengenal salah satu bangunan monumental dengan histori yang cukup panjang, yakni Istana Alhambra. Alhambra dalam bahasa Arabnya hamra’ bentuk jamak dari kata ahmar yang berarti “merah”. Karena bangunannya banyak dihiasi dengan ubin-ubin, bata-bata berwarna merah, serta penghias dinding yang agak kemerah-merahan dengan keramik yang bernuansa seni Islami, disamping marmer-marmer yang putih dan indah. Ada pula yang berpendapat bahwa Alhambra dinamakan demikian karena diambil dari seorang pendirinya yakni Al- Ahmar. Hingga saat ini bangunan bernilai tinggi akan seni arsitektur ini memperlihatkan peradaban tinggi orang-orang Islam tempo dulu. Istana ini berada di bukit La Sabica, masih tetap berdiri sebagai bukti kejayaan Islam di Granada Spanyol.
Istana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor (Moria) (bangsa yang berasal dari daerah Afrika Utara), satu kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia sekarang Spanyol.
Kerajaan Daulat Bani Ahmar berkuasa antara 1232-1492 M, didirikan oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar atau Bani Nasr yang masih keturunan Sa’id bin Ubaidah, seorang sahabat Rasulullah saw. yang berasal dari suku Khazraj di Madinah. Bangunan Istana Alhambra dibangun kurang lebih tahun 1238 dan 1358 M oleh Sultan tersebut yang diteruskan oleh keturunan raja-raja Bani Ahmar. Istana Alhambra tidak langsung didirikan, namun secara bertahap.
Istana ini dilengkapi dengan taman mirta semacam pohon myrtuscommunis dan juga bunga-bunga yang indah harum semerbak, serta suasana yang nyaman. Kemudian, ada juga Hausyus Sibb (Taman Singa), taman yang dikelilingi oleh 128 tiang yang terbuat dari marmer. Di taman ini pula terdapat kolam air mancur yang dihiasi dengan dua belas patung singa yang berbaris melingkar, yakni dari mulut patung singa-singa tersebut keluar air yang memancar. Di dalamnya terdapat berbagai ruangan yang indah, yaitu, Ruangan Al-Hukmi (Baitul Hukmi), yakni ruangan pengadilan dengan luas 15 m x 15 m, yang dibangun oleh Sultan Yusuf I (1334-1354); Ruangan Bani Siraj (Baitul Bani Siraj), ruangan berbentuk bujur sangkar dengan luas bangunan 6,25 m x 6,25 m yang dipenuhi dengan hiasan-hisan kaligrafi Arab; Ruangan Bersiram (Hausy ar-Raihan), ruangan yang berukuran 36,6 m x 6,25 m yang terdapat pula al-birkah atau kolam pada posisi tengah yang lantainya terbuat dari marmer putih. Luas kolam ini 33,50 m x 4,40 m dengan kedalaman 1,5 m, yang di ujungnya terdapat teras serta deretan tiang dari marmer; Ruangan Dua Perempuan Bersaudra (Baitul al-Ukhtain), yaitu ruang yang khusus untuk dua orang bersaudara perempuan Sultan Al-Ahmar; Ruangan Sultan (Baitul al-Mulk); dan masih banyak ruangan-ruangan lainnya seperti ruangan Duta, ruangan As-Safa’, ruangan Barkah, Ruangan Peristirahatan sultan dan permaisuri di sebelah utara ruangan ini ada sebuah masjid yakni Masjid Al-Mulk.
Selain itu, istana merah ini dikelilingi oleh benteng dengan plesteran yang kemerah-merahan. Yang lebih unik lagi pada bagian luar dan dalam istana ini ditopang oleh pilar-pilar panjang sebagai penyangga juga penghias istana Alhambra. Kemudian, dinding istana itu baik di luar atau pun dalam istana banyak dihiasi dengan kaligrafi-kaligrafi Arab dengan ukiran yang khas yang sulit dicari tandingannya.
Semula kerajaan ini hanya kerajaan kecil saja namun dengan cepatnya kerajaan ini menjadi kerajaan kuat dan megah hingga dua setengah abad lebih berkuasa. Kekuatan ini bukan saja dari kematangan pola pikir para pemimpinnya, tetapi keadaan alam pun ikut mendukung kejayaannya. Wilayah Granada termasuk daerah sebuah bukit atau pegunungan yang indah dengan ketinggian kurang lebih 150 m, dengan luas kira-kira 14 ha, satu daerah yang sukar dimasuki oleh musuh namun mudah dipertahankan, sekarang Bukit La Sabica. Pada masa kejayaannya istana Alhambra ini dilengkapi dengan barang-barang berharga seperti barang yang terbuat dari logam mulia, perak, dan permadani-permadani indah yang masih alami buatan tangan manusia.
Raja-raja Bani Ahmar sangat memperhatikan akan kemakmuran rakyat sehingga pada saat itu bidang pertanian, dan roda perniagaan sangat maju. Selama 260 tahun kerajaan raja-raja Bani Ahmar berkuasa, namun timbul di antara mereka perselisihan juga sengketa. Inilah yang menyebabkan lemahnya kerajaan Bani Ahmar. Bagaimanapun gigihnya usaha Sultan Muhammad XII Abu Abdillah an Nashriyyah raja terakhir Bani Ahmar untuk menyelamatkan kerajaannya, akhirnya runtuh juga oleh dua buah kerajaan Kristen yang bersatu dari utara. Maksud dari dua buah kerajaan ini adalah karena perkawinan Karel/Ferdinand V (L. 1452-W. 1516) dari Aragon menikah dengan saudari Henry IV yaitu Ratu Isabella (L. 1451-W. 1504) dari Castille dan Leon. Keduanya menikah tahun 1469. Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella ini, keduanya yang mendukung dan membantu rencana penjelajahan Columbus di tahun 1492.
Pada pertengahan 1491 M, Raja Ferdinand V telah mengepung Granada selama tujuh bulan, Ferdinand V berkemah di Gumada di sebelah selatan kota. Sebelumnya Ferdinand V telah menguasai kota-kota lain seperti Malaga pelabuhan terkuat di Andalusia, kemudian Guadix dan Almunicar, Baranicar, dan Almeria. Yang terakhir adalah Granada yang diserahkan oleh raja terkahir Bani Ahmar Abu Abdillah. Penyerahan Granada ini diserahkan di halaman Istana Alhambra.
Demikianlah Granada takluk dan menyerah yang diduduki oleh pengikut-pengikut Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella pada tanggal 2 Januari 1492 M/ 2 Rabiul Awwal 898 H. Karena kegigihan dan perjuangan Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella, Paus Alexander VI (L. 1431-W. 1503) yang terkenal dengan perjanjian Tordesillasnya pada tahun 1494 ia memberi gelar raja dan ratu ini sebagai “Catholic Monarch” atau “Los Reyes Catolicos” atau Raja Katolik.
Dengan kemenangan umat Kristen inilah orang-orang Islam dipaksa keluar dari tanah Spanyol, untuk yang mau menetap harus berpindah agama atau dibunuh kalau tidak mau keluar dan menjadi Katolik. Selain dari itu, orang-orang Yahudi pun ikut terusir dari tanah ini. Padahal, saat kekuasaan Islam sedang berjaya mereka mendapat tempat, kehormatan, dan pekerjaan yang layak oleh orang-orang Muslim Spanyol.
Yang sangat menyedihkan perpustakan-perpustakaan Islam ikut dibakar dan dihancurkan. Karya tulis yang sampai kepada kita hanyalah bagian terkecil dari karya-karya pemikir Islam di zamannya hingga sekarang sulit dicari tandingannya, yang sebagian besarnya dihancurkan dan dibakar. Alhambra yang megah pun dengan benteng yang berwarna kemerah-merahan kian tak terawat, kusam, dan tak terlihat wajah aslinya, dan dijadikan Istana Kristen. Kemudian, Masjid Kordoba yang megah didirikan oleh Sultan Abu Yusuf Al-Muwahhid pada tahun 785 M yang diperbesar pada tahun 848, 961, 1187 M., dialih-fungsikan menjadi Gereja Santa Maria de la Sede.
Hampir delapan abad lamanya Islam berkuasa di Spanyol, dari Kordoba hingga Granada adalah bukti nyata sebagai kejayaan Islam tempo dulu serta peradaban tinggi di tanah Andalusia. Salah satu bukti adalah Istana Alhambra ini, satu bangunan yang telah berdiri hingga sekarang yang hampir delapan abad pula usianya masih tetap kokoh walaupun sebagian kecil ada yang sudah lenyap. Kemasyuran istana ini kerena daya pesona serta keindahan arsitekturnya yang sungguh luar biasa.
BAB III
kesimpulan
Dari Pembahasan di atas kita dapat mengambil suatu kesimpulan :
- Islam menyentuh wilayah Mesir pada 628 Masehi. Ketika itu Rasulullah mengirim surat pada Gubernur Mukaukis -yang berada di bawah kekuasaan Romawi-mengajak masuk Islam.
- Mesir baru menjadi pusat kekuasaan -dan juga peradaban Muslim-baru pada akhir Abad 10.
- Ummat Islam pada masa itu terlalu tersobsesi oleh konsep ummatan wahidah, sehingga pemerintah / kekuasaan hanya ada satu yang berkuasaa di bumi ini, padahal mereka tidak mampu untuk mengontrol, mengatur dan menjaga kekuaasaan yang begitu luas.
- Kerajaan / Pemerintahan Islam dengan Kerajaan Islam lainya tidak bersatu satu dengan yang lain, mereka saling serang dan mencaplok negara Islam yang lain, untuk memperluas wilayah, sehingga ketika orang Kristen menyerang kerajaan Islam tersebut mereka tidak siap mengahadapinya.
- Gerakan Politik yang timbul awalnya adalah gerakan keagamaan, lalu berkembang menjadi gerakan politik.
- Pada masa Muwahhidun terdapat tokoh – tokoh Islam yang terkenal dan memberikan sumbangan yang besar bagi majunya ilmu pengetahun seperti : Ibn Tufayl, Ibn Rusd, Ibn Arbi dll.
- Ketika Islam berkuasa di Spanyol semua di hargai dan tidak ada pemaksaan dalam beragama, tapi setelah Islam kalah dan Kristen yang berkuasa maka semua harus menganut agama yang sama atau keluar dari Spanyol.
- Peninggalan atau bangunan yang indah mena’jubkan dihancurkan, buku – buku dibakar suatu sikap negatif yang berlebihan dan tidak ada penghargaan terhadap peradapan.
- Kehancuran dinasti Islam disebabkan 2 faktor:
- Internal : Perebutan kekuasaan dan pengaruh dikalangan istana.
- Ekternal : Adanya serangan dari pihak luar baik dari kerajaan Islam atau dari pihak Kristen.
DAFTAR PUSTAKA
…………….., Sejarah Dakwah Islam,………….,…………
Abdurrahman, Dudung. Sejarah Peradapan Islam : Dari Masa Klasik Hingga Masa Modern, Yogyakarta: Lesti. 2004
Amstrong, Karen, Islam Sejarah Singkat, Terj. Fungky Kusnaedy Timur. Yogyakarta: Jendela. 2002.
Glasse, Cyril, Ensiklopedi Islam ( ringkas ). Terj. Ghufron A. Mas’adi. Ed. 1. Cet. 2. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999.
Yatim, Badri, Sejarah Peradapan Islam, PT, Raya Grafindo Persada, jakarta, 1993.
Mahmudunnaser, Saed, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, Penerbit Remaja Rosda Karja, Bandung, 1995.
Nasution, Harun, Islam ditinjau dari beberapa Aspeknya, UI Press, Jakarta, 1985.
Nasution, Harun , Pembaharuan Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1975.
Lapidus, Ira, Sejarah Sosial Ummat Islam.Cet ke III. PT Raja Grafindo Persada,1999.
Tambahan dari Internet,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya sangat mengharapkan komentar, kritik , saran dan tanggapan yang membangun untuk kemajuan kita bersama.